Pariwisata

Kurs Jual Beli

30-Jul-2010 / 08:03 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9050.00 8900.00
HKD 1166.30 1145.00
JPY 104.97 102.25
EUR 11838.25 11615.25
sumber: KlikBCA.com

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini92
mod_vvisit_counterKemarin151
mod_vvisit_counterMinggu ini600
mod_vvisit_counterBulan ini4341
mod_vvisit_counterTotal51231
semarangproperti.com
Monumen Jogja kembali pun Bercerita
Ditulis oleh apik   
Monumen Jogja kembali pun BerceritaGapura Papat Ambuka Jagat (surya sengkalan).Tulisan jawa yang terpahat pada logo lingkaran di gerbang depan Monumen Jogja Kembali ini memiliki arti. Bila kata-kata tersebut dibalik, maka bisa diartikan menjadi 1949, tahun di mana tentara Belanda ditarik dari wilayah Jogjakarta.
Semilir angin yang bertiup sejuk turut mengiringi kibaran merah putih yang berdiri tegak di tengah pelataran. Tak sampai dua meter ke arah selatan, berdiri kokoh prasasti abadi yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 juni 1949 disertai puisi Karawang Bekasi ciptaan penyair besar Chairil Anwar. Nampaknya bendera putih yang menjadi simbol persatuan bangsa Indonesia itu tak lelah memberi hormat bagi para pejuangnya.

Suasana syahdu tersebut tertangkap oleh Rumah Jogja saat melangkahkan kaki ke lokasi bersejarah Monumen Jogja Kembali. Konon, 49 tahun silam di tempat inilah Mayor Kasno ditunjuk sebagai Komandan SWK 104 untuk memepertahankan wilayah Jogja Utara. Di tempat lain di bawah komando Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku penggagas serangan. Pasukan Belanda yang satu bulan

semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan pertahanannya melemah. Selama enam jam Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Kota Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda.

Tepat pukul 12.00 siang, sesuai rencana, semua pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda. Pertempuran ini dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret.
Kilas balik sejarah perjuangan bangsa indonesia tersebut terekam dalam bangunan berbentuk kerucut dengan tinggi 31,8 meter.

Nama Monumen Jogja Kembali pun ditengarai sebagai semangat kembalinya wilayah Jogjakarta ke dalam pangkuan Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI).
“Tetenger sejarah ini merupakan bukti nyata bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilalui dengan pengorbanan yang tidak sedikit,” ujar Gunadi, Humas Monumen Jogja Kembali. Didirikan pada 29 Juni 1985 atas prakarsa Dr. Roeslan Abdul

Ghani dan Sri Sultan HB IX selaku pahlawan nasional, perlu empat tahun untuk memastikan pembangunan monumen ini benar-benar

terlaksana dengan matang. Tepat pada 6 Juli 1959 bangunan seluas 5 ha tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto.Lebih lanjut Gunadi mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi di dusun Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, atas pertimbangan budaya. Pembangunan Jogjakarta selalu mengikuti garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Pantai Selatan. Pun Monumen ini terletak di sebelah

utara Kraton dan sebelah selatan Gunung Merapi. “Masyarakat di sini adat istiadatnya sangat kental. Selain itu supaya monumen ini membudaya di seluruh Indonesia,” tegasnya. Pertimbangan kedua didasarkan pada jejak perjuangan. Tepat di tempat berdirinya monumen ini dulu digunakan sebagai tempat pertahanan kekuatan militer di dusun Nandan.
Rupanya selain kental dengan prosesi adat, pembangunan monumen ini juga kental dengan pemaknaan simbol. Bentuk kerucut menunjukkan bentuk gunung karena Indonesia sendiri kaya akan pegunungan. Di sekeliling bangunan terdapat kolam besar yang menyimbolkan kesucian. Biasanya ketika hari-hari libur, banyak pengunjung anak-anak yang memanfaatkan kolam tersebut untuk

bermain animal boat.
Monumen berlantai tiga ini kaya akan memori perjuangan yang menegaskan kembali eksisitensi NKRI. Memasuki lantai pertama, pengunjung akan disuguhi empat ruang museum yang menyajikan benda-benda koleksi berupa realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif Dapur Umum yang menggambarkan suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Selain itu di sisi barat terdapat perpustakaan khusus yang menyajikan bahan-bahan referensi sejarah. Tepat di tengah lantai pertama

terdapat ruang serbaguna berbentuk bundar. Ruang ini sering digunakan untuk acara-acara pernikahan, seminar, wisuda, maupun acara kesenian lainnya.
Naik ke lantai dua, pengunjung akan dibuat takjub dengan diorama yang ditampilkan. Perjuangan fisik dan diplomasi bangsa Indonesia dalam Agresi Militer II terpapar dalam 10 episode diorama ukuran life size. Pengunjung bisa dengan jelas mengimajinasikan pikirannya lewat gambaran kejadian masa lalu yang menampilkan para tokoh dalam bentuk boneka. Di sisi luar diorama, terdapat 40 relief perjuangan yang terpahat apik. Pengunjung sering melewatkan waktu terlama di sini karena semilir angin yang kencang dan kebebasan melihat pemandangan langit. Naik satu tingkat ke lantai terakhir, suasana senyap tiba-tiba menerpa. Di tengah ruangan yang lapang berdiri anggun duplikat bendera pusaka. Tangan-tangan yang menggenggam bambu runcing disertai kata-kata mutiara terlukis di dinding. Ruang Garbha Graha atau lebih terkenal dengan istilah ruang hening ini memang tempat khusus untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur. Setelah menyelami perjuangan pahlawan di lantai I dan II, lantai inilah menjadi tempat perenungan khusyuk bagi para pahlawan.

“Tujuan didirikannya monumen ini memang untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan bangsa sekaligus penghargaan bagi para pahlawan serta tetenger bagi pendidikan Indonesia,” imbuh Gunadi bersemangat. Lagipula pembangunan Monumen Jogja Kembali ini menimbulkan imbas besar bagi perkembangan kawasan di sisi utara Kraton sebagai pusat kota.

Pengelolaan Monjali sendiri berbentuk yayasan dengan nama Yayasan Monjali yang dipimpin oleh R.H. Suryono. “Beliau kini tengah terbaring sakit. Kami seluruh staf mendoakan supaya beliau cepat sembuh dan ikut berjuang bersama kami sampai titik darah terakhir,” harap Gunadi.

Sejarah, memang memiliki pemaknaan yang beragam. Monumen Jogja Kembali hadir sebagai kenangan sejarah yang terekam terlepas dari berbagai kontroversi yang pernah berkecamuk (sumber:rumahjogja.com).
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
SYARIF GEMILANG REALTY
Zaenal Abidin MK

Telp. : (0283)354176
Hp.   : 0815 488 788 31
email : admin@semarangproperti.com

Pengunjung

Saat ini ada 10 pengunjung yang online

Relasi Kami