| Istana Laba-laba Nani Sakri... |
| Ditulis oleh apik | |
Di kawasan Pejompongan, Jakarta, persis di ujung sebuah jalan yang lumayan ramai, ada sebuah rumah yang terlihat asri. Dedaunan hijau dan kamboja berbunga merah darah menandai rumah bercat hijau itu.Melangkah masuk ke halaman, serasa berada jauh dari Jakarta. Taman yang rimbun oleh pepohonan hijau menyergap mata. Jalan setapak menuju ke pintu masuk ke dalam rumah yang letaknya letaknya agak ke bagian belakang, membelah taman yang hijau oleh rumput gajah. Sepanjang sisi jalan setapak berbatu itu berjajar aneka pohon berdaun hijau di dalam pot-pot. Bising suara kendaraan pun teredam ketika kaki melangkah ke ruang utama rumah berlantai dua itu. Di situlah tinggal Nani Sakri (61), model yang sudah berjalan di atas catwalk sejak lebih 30 tahun lalu. Profesi sebagai model tidak pernah benar-benar dia tinggalkan hingga kini. Sekali-sekali dia masih tampil bersama beberapa peragawati seangkatannya untuk acara-acara khusus. Profesi yang sangat serius dia tekuni sekitar 10 tahun terakhir adalah sebagai perupa. Itu pula yang tercermin begitu memasuki ruang utama di lantai satu itu. Lukisan perempuan tergantung di dinding hasil karya Nani. Di dinding yang lain ada beberapa lukisan perempuan dengan latar corak batik. Satu dudukan kanvas dibiarkan kosong. Di sisi yang berhadapan, satu lemari berisi kaleng berisi cat akrilik dan kuas. Hingga sore menjelang temaram ruangan tersebut tetap mendapat cahaya matahari sore karena ruangan itu membuka ke teras belakang. Di situ pohon rambatan dan pot-pot berisi tanaman daun meneduhkan sinar matahari pukul 16.00 yang masih terasa terik di udara Jakarta yang panas. Udara sejuk pun mengalir bebas ke ruang merangkap studio kerja Nani. Hijau dan sejuk Di tengah kota Jakarta yang tak sampai 10 menit bermobil dari situ jalanannya selalu macet saat jam berangkat dan pulang kantor, rumah Nani seperti oase. Hijau dan sejuk. ”Ibuku suka sekali tanaman,” kata Nani menjelaskan tentang hijaunya rumah seluas 274 meter persegi itu. Dia membeli rumah itu pada tahun 1979 dari bentuk awal yang kopel. Awalnya daerah terebut milik karyawan Perusahaan Daerah Air Minum, tetapi satu per satu pindah tangan. Tahun 1996 Nani mengubah total desain rumah. Dia sendiri yang mendesain bangunan itu menjadi dua lantai. Lantai bawah terdiri dari satu ruang memanjang yang dia jadikan studionya melukis. Di lantai bawah ada satu kamar untuk menyimpan hasil lukisannya, satu kamar untuk ruang kerja merangkap ruang komputer tempat dia merancang karya lukisnya. Di bawah juga ada dapur dan tempat anjing Golden Ritriever kesayangannya, Bettina, berada. ”Ruang atas untuk tempat tinggal. Enggak enak kalau ada yang mau lihat lukisan dan harus ke atas,” kata Nani. Di lantai atas terletak kamar tidur dia dan dua kamar tidur anaknya, meskipun saat ini kamar tidur anak perempuannya kosong setelah mengikuti suaminya tinggal di Cibubur. Ruang itu sekarang difungsikan sebagai tempat menyimpan buku, semacam perpustakaan untuk mencari referensi bila Nani harus mengajar mata ajaran menggambar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara dan Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara. ”Supaya otak tidak macet dan juga untuk terlibat dengan komunitas baru, perupa dan pelukis,” kata Nani yang sempat belajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan menyelesaikan sarjana seninya di Institut Kesenian Jakarta (2004-2007). Di halamannya ada puluhan jenis tanaman, kebanyakan dari jenis tanaman hias daun. Dia meminta tolong ibunya untuk merancang tamannya. Ibunya, Setiawati, adalah pembatik yang ikut menyumbang pada perkembangan batik Indonesia pada tahun 1960-an. Ibunya belakangan tidak lagi membatik. Sebagai ganti kini mengembangkan tanaman hias. Beberapa tanaman itu pemberian teman. Ada pohon simbar dengan daun yang berbulu halus yang diberi sahabat ibunya. Philodendron tumbuh subur dengan daun lebar-lebar. Ada Petrea volubilis yang menyisakan bunga berwarna ungu. Pilih lokasi Nani mengatakan, rumah itu adalah hasil jerih payahnya bekerja sebagai model. Ketika dia berpisah dari suaminya, dia mencicil kembali pembagian gono-gini suaminya atas rumah itu. ”Dari muda aku sudah berkeyakinan harus punya rumah sendiri. Dengan punya rumah, kalau datang keadaan susah sudah punya tempat berlindung,” kata Nani. Dia memilih rumah di daerah itu dengan pertimbangan tidak jauh dari daerah Menteng di Jakarta Pusat dan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan, tetapi harga tanah tidak semahal di dua kawasan tersebut. Akses yang mudah ke pusat-pusat kegiatan itu menjadi pertimbangan utama. Kenyataannya, pilihan itu benar. Kini, ketika Jakarta selalu macet dari pagi hingga malam, lokasi tempat tinggal Nani menjadi relatif nyaman. Dia mengatakan juga menyukai rumah yang seperti oase itu karena di sekitar kawasan itu banyak tempat menjual makanan enak. ”Di dekat sini ada sate kambing Djono, ada rumah makan aceh, ada nasi goreng Bumen, belum lagi yang di Bendungan Hilir. Di dekat sini ada yang jual sate ayam dan siomai. Teman-teman yang datang ke sini aku beliin siomai itu dan mereka bilang enak,” kata Nani. Kalaupun ada yang disesali Nani adalah kawasan permukiman itu kini perlahan berubah menjadi perkantoran. Halamannya pun kini kekurangan sinar matahari pagi karena tetangganya membangun dinding tinggi-tinggi, seakan enggan menyapa tetangga. Biarpun begitu, Nani mengatakan dia akan terus tinggal di rumahnya, di oasenya. ”Ini goa aku, istanaku, istana laba-laba. Aku bangun sendiri, dan tinggali sendiri,” kata Nani. (sumber:kompas.com) |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
















Di kawasan Pejompongan, Jakarta, persis di ujung sebuah jalan yang lumayan ramai, ada sebuah rumah yang terlihat asri. Dedaunan hijau dan kamboja berbunga merah darah menandai rumah bercat hijau itu.





